Kemenangan Trump yang kedua kalinya sebagai presiden Amerika Serikat sontak mendorong seluruh pemimpin dunia untuk mengencangkan sabuk pengaman masing-masing. Sabuk pengaman dalam menghadapi perkiraan kebijakan Trump yang selaras dengan citranya, revisionistis dan pragmatis.
Tentunya untuk masa kepresidenan Trump kedua ini, hampir seluruh negara memiliki sedikit kecakapan untuk menelisik proyeksi kebijakan, mengingat ketersediaan database kepresidenan pertama (2017-2021). Namun tidak bagi Afghanistan yang baru bertransformasi menjadi entitas baru kenegaraan pada Agustus 2021 pasca penarikan tentara Amerika Serikat di negara tersebut.
Penarikan yang tidak hanya mematahkan kehadiran militer Amerika Serikat dalam jumlah besar di Asia Tengah selama 20 tahun terakhir, juga menamatkan ambisi demokratisasi Amerika Serikat di Afghanistan melalui “pembentukan” pemerintah sipil di Afghanistan.
Dalam hal ini, Trump sangat mengkritik kebijakan Biden soal penarikan, mengatakannya sebagai sesuatu yang bodoh. Cukup beralasan apa yang menjadi kritik Trump terhadap Biden, melakukan penarikan yang pada akhirnya “mewariskan” senjata mutakhir Amerika Serikat kepada musuh mereka selama 20 tahun terakhir, kelompok pelajar yang bertransformasi menjadi kelompok pergerakan, Taliban.
Kekhawatiran akan terjadinya eskalasi ketengangan keamanan kawasan akibat “warisan” tersebut pada akhirnya terbukti dalam beberapa waktu setelahnya. Beberapa eviden menunjukkan temuan senjata buatan Amerika Serikat di antara jenazah teroris yang terbunuh di Pakistan.
Selain dampak negatif terkait keamanan kawasan dan global, “warisan” tersebut juga setidaknya mencoreng reputasi Amerika Serikat yang dibangun di atas fondasi War on Terror untuk “mentahbiskan” diri sebagai negara adikuasa.
Menjadi sebuah polemik yang patut ditelaah mengingat Pemerintah Interim Afghanistan (PIA) telah menunjukkan keberhasilan transformasi (sekali lagi) dari kelompok pergerakan menjadi kelompok kenegaraan; tidak hanya berfokus kepada hal-hal yang bermuara di sekitar pendukungnya saja, namun juga berkewajiban untuk memikirkan hal-hal di luar kelompok, semisal front utara dan etnis non-Pashtu.
Skenario Geopolitik
Di awal perpindahan kekuasaan, PIA diragukan dapat mengembalikan stabilitas di Afghanistan dalam periode waktu yang singkat, apalagi mempertahankannya dalam waktu yang lama.
Tetapi seiring berjalannya waktu, PIA dinilai telah berhasil membuktikan keberhasilan dalam menjalankan kepemerintahan yang diiringi dengan perbaikan stabilitas dan kemajuan ekonomi di Afghanistan, sesuatu yang mungkin asing bagi sebuah kelompok pergerakan (militan) ini.
Selain kemajuan yang ditampakkan di bidang sosial dan ekonomi, pembukaan kembali beberapa kedutaan besar di Kabul berindikasi adanya kemajuan juga di bidang hubungan internasional. Terutamanya pembukaan kembali kedutaan besar Arab Saudi di akhir 2024 yang lalu juga memperkuat indikasi tersebut.
Dengan beberapa perkembangan ini, setidaknya terdapat asumsi kuat bahwa kepentingan nasional Afghanistan terkait keamanan dan pertahanan nasional menjadi semakin relevan untuk terus dicapai oleh PIA. Sebagaimana basis stabilitas keamanan menjadi fundamental bagi negara yang porak poranda oleh peperangan berpuluh tahun tersebut. Untuk mengatasi friksi, disparitas, dan disintegrasi dalam jaring masyarakat sosial Afghanistan, kebutuhan “tangan besi” sangat diperlukan. Oleh karena itu, “warisan” yang ditinggalkan oleh Amerika Serikat menjadi sangat strategis untuk terus dipertahankan dalam keadaan apapun.
Di lain sisi, Washington di bawah komando baru Trump diperkirakan memiliki ambisi untuk akuisisi kembali “warisan” bernilai ratusan juta dollar tersebut. Selain gestur yang telah ditunjukkan oleh Trump pada 2021 lalu yang mengkritik dengan keras kebijakan Biden terkait penarikan tentara Paman Sam di Kabul, dorongan prioritas Washington dalam rivalitas Sino-Amerika juga menjadi faktor selanjutnya.
Indikasi refocusing Washington dari area Transatlantik menuju Eurasia telah ditunjukkan melalui momen mengejutkan pertemuan bilateral Ukraina-AS pada awal bulan ini serta penerapan pajak bea berlapis dan membabib buta terhadap Tiongkok.
Demikian dapat terjadi kemungkinan kristalisasi ambisi Amerika Serikat yang tidak hanya akuisisi kembali warisan, namun juga terkait dengan re-establishment mercusuar di Kabul, sebuah menara pengintai yang signifikan dalam mengamati segala pergerakan arah angin pengaruh di Eurasia, terutama pengaruh arah angin Beijing di kawasan.
Analisa Skenario
Dalam garisan sejarah, Kabul telah mengubur berbagai macam jenis pedang-tameng dari para adikuasa yang berambisi di tanah tersebut di banyak episode peradaban manusia.
Saat ini, dimana atmosfer dunia internasional semakin bercirikan multipolaristik dan globalistik, Kabul di bawah kendali pemerintahan PIA, masih terus mendapatkan keraguan dari dunia internasional. Keraguan tersebut muncul akibat adanya kemungkinan intervensi Kabul dalam menyokong aktivitas terorisme global.
Tak dapat dipungkiri bahwa keraguan tersebut muncul dari seluruh spektrum, baik spektrum tradisionalis yang mengadopsi paham liberalisme (kontras dengan PIA), maupun spektrum dunia Islam yang sedikit banyak dianggap satu dimensi dengan PIA. Kedua spektrum tersebut masih didapati memasang jarak yang cukup dalam berinteraksi dengan Kabul.
Amerika Serikat : Washington diperkirakan akan berpegang teguh dengan kebijakan akuisisi kembali alutsista yang telah ditinggalkan oleh mereka saat pemerintahan Biden. Hal tersebut diamati berdasarkan kepentingan untuk menjaga pamor Trump di domestik dan internasional. Namun tidak menutup kemungkinan Washington membiarkan alutsista tersebut bersirkulasi di Afghanistan untuk mengguncang keamanan kawasan demi menganggu ekspansi pengaruh Tiongkok di Eurasia.
Tiongkok : Beijing sendiri dinilai telah menempuh berbagai kebijakan demi menjaga keamanan kawasan Eurasia dari adanya ancaman instabilitas. Selain untuk mengamankan ekspansi pengaruh lewat proyek BRI, menekan Kabul juga penting untuk menghilangkan ancaman ideologis di Uyghur serta ancaman terorisme di Pakistan. Beijing sendiri diperkirakan akan lebih pragmatis terhadap kepemilikan alutsista Kabul, yakni diperkirakan tidak akan melakukan manuver selama Kabul tidak mengusik stabilitas domestik Beijing yang berkaitan dengan Uyghur.
India : Pasca lengsernya Hasina, New Delhi disinyalir telah memperkuat hubungan anomali dengan Kabul. Hal tersebut kemungkinan didasari dengan kepentingan India dalam memberikan tekanan untuk Islamabad perihal Kashmir. Sehingga kepemilikan alutsista Kabul dapat menjadi kunci penting dalam deter Islamabad. Selain itu juga untuk memperluas pengaruh India di Eurasia demi membendung pengaruh rival alami New Delhi, Beijing.
Pakistan : Islamabad sendiri diperkirakan melanjutkan episode hubungan dingin dengan Kabul sejak perpindahan kekuasaan pada 2021 yang lalu. Pasang surut hubungan tersebut disebabkan oleh faktor aktor non-negara yakni kelompok terorisme Taliban Tehreek Pakistan dan faksi-faksi afiliatif. Demikian Islamabad diamati akan menerapkan kebijakan yang cukup kompromistis dengan Kabul, apalagi ditambah dengan indikasi hubungan anomali New Delhi-Kabul. Namun, blessing in disguise, terdapat kesamaan pandangan antara Islamabad-Washington terhadap kepemilikan alutsista Kabul, sehingga disinyalir adanya pengembangan bilateral kedua negara.
Konklusi
Perkembangan terkait kepemilikan alutsista Kabul diyakini akan berfaktor kepada dua hal, yakni hubungan Sino-Amerika dan rivalitas India-Pakistan.
Narasi : Tata Auniy
Ilustrasi : Muhammad Danish Fatih