Pasca partisi yang membentuk dua entitas negara independen di tanah bekas jajahan Kerajaan Inggris, hubungan India dan Pakistan telah bergejolak melalui peperangan sebanyak empat jilid serta masih tersandera pada rivalitas yang penuh tensi hingga hari ini.

Bahkan hampir lima tahun setelah merayakan diamond jubilee, bilateral kedua negara tampak tidak mengalami perbaikan yang signifikan, stagnan dalam state of hostile. Dari empat jilid perang tersebut, hampir semua dikatakan berpangkal pada persoalan wilayah yang tidak jelas statusnya saat pembicaraan partisi berlangsung.

Tak ada perang yang tidak destruktif, tentunya kalimat tersebut sangat relevan dengan keadaan pasca Perang Indo-Pak I, memaksakan kedua negara untuk bersepakat memetakan wilayah yang tak jelas statusnya. Kashmir terbagi menjadi dua bagian, India-Pakistan dibatasi oleh kesepakatan Line of Control (LoC) yang disaksikan oleh komunitas internasional.

Opsi Realistis Covert War

Mengamati rivalitas India-Pakistan per hari ini, sangat kuat dugaan bahwa implementasi opsi strategi covert war masih terus relevan dalam struktur hubungan internasional yang liberalis pasca perang dingin. Selain karena faktor lebih “aman” dari kecaman komunitas internasional, hal tersebut juga disinyalir menjadi upaya mempertahankan military readiness kedua negara jika perang terpaksa pecah.

Hal readiness atau kesiapsiagaan menjadi sangat krusial berfaktor kepada tiga hal; Pertama, faktor geogragis mengenai perbatasan bersama yang cukup panjang (2.900 km). Kedua, faktor materiil penguasaan alutsista dan senjata nuklir yang terus mengalami sofistikasi seirama dengan arms race yang terus berlangsung. Ketiga, faktor internal dari muatan faktor domestik kedua negara terkait kecenderungan pengaruh militer yang signifikan dalam hierarki pengambilan keputusan dan politik domestik.

Sebagai bentuk counter-measure atas strategi covert war ini, Pakistan yang berstruktur militeristik diyakini akan mengambil langkah-langkah realis seperti intensifikasi operasi intelijen maupun kontra terorisme, upaya pencapaian kemitraan pertahanan full scale dengan Tiongkok dalam bentuk aliansi sebagai bentuk bandwagoning Pakistan yang secara kasat mata tertinggal dari India, pernguatan kerja sama pertahanan terbatas dengan mitra prospek seperti Turki melalui pembelian alutsista, dan melakukan perluasan range of covert tidak hanya di Kashmir seperti kemungkinan melakukan inisiasi dukungan terhadap Khalistan.

Kompleksitas Covert War dan Terorisme

Menjadi pelik covert war pada saat ini, dimana Afghanistan diyakini tidak bergerak dengan intensitas yang independen melainkan terdapat riding boat yang kentara dari India. Kehadiran aktor negara Afghanistan ini dapat semakin menekan posisi Pakistan dalam geopolitik kawasan. Namun, blessing in disguise, Afghanistan masih memiliki pamor buruk di komunitas internasional, sehingga terdapat opportunity bagi Pakistan untuk meninjau kerja sama dengan negara kontra Afghanistan atau isu internasional terorisme.

Terorisme yang ada di Pakistan telah menunjukkan angka lonjakan yang signifikan dibandingkan tahun lalu selama triwulan awal ini, padahal angka 2024 telah mengerek Pakistan ke urutan kedua negara terdampak terorisme menurut Global Terrorism Indeks. Terdapat dugaan bahwa perubahan jaringan terorisme terjadi di Pakistan, menjadi inklusif di antara beragam kelompok teroris, bahkan terdapat sinyal bahwa TTP dan BLA menjalin kerja sama di lapangan.

Selain variabel perubahan nilai di antara kelompok teroris Pakistan, peningkatan kompetensi operasi juga sangat tampak. Keberhasilan pembajakan kereta secara penuh menandakan adanya konversi dari gerilya membabi buta menjadi taktis-terarah-terukur yang juga disuplai dengan persenjataan yang memadai.

Namun penggunaan aspek “senjata” diyakini tidak dapat menyentuh aspek fundamental dari akar terorisme yang terjadi di Pakistan. Dorongan untuk perbaikan dan pembangunan yang berkelanjutan terkait stabilitas multidimensional rasanya menjadi penting dalam upaya kontra terorisme tersebut.

Saran

Dengan perkembangan ini, Indonesia perlu untuk menavigasi secara bijak kompleksitas kawasan Asia Selatan; kompetisi sphere of influence Pakistan-India di Asia Selatan, pengaruh aktor non-negara yang eksesif di kawasan, pengaruh rivalitas Sino-Amerika dan global powers. Selain itu Indonesia perlu untuk terus berhati-hati dalam menyikapi isu rivalitas Pakistan-India terutama isu Jammu dan Kashmir yang merupakan zero sum game bagi Pakistan-India. Oleh karena itu doktrin kebijakan luar negeri Indonesia didorong untuk terus diimplementasikan sembari terus berkooptasi dengan perubahan yang ada.

Narasi : Tata Auniy

Ilustrator : M Danish

You May Also Like

Minggu Orientasi digelar Sinergi Linear dalam meningkatkan kapabilitas anggota komunitas

Sinergi linear selenggarakan kegiatan Orientasi Keorganisasian pada Jum’at malam (14/10). Kegiatan tersebut…

Looking Further at the Regional Stability Impact of the Ongoing Dispute in the Kashmir Region, Sinergi Linear made it a topic of Discussion for Debate.

Sinergi Linear holds a Debate which is one of its monthly routine…

Roller-Coaster Keadaan Politik Pakistan: Nasib Negara di Tangan Sipil, Ulama, dan Umum.

Pada pemilihan umum terakhir yang diadakan pada 2018 lalu, Pakistan Tehreek Insaaf…